Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh
Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Jumat, 30 Juni 2017

Antara Berbakti Kepada Orangtua dan Taat Kepada Suami

Nov 19, 2011 | Asy Syariah Edisi 045 | (ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Memilih antara menuruti keinginan suami atau tunduk kepada perintah orangtua merupakan dilema yang banyak dialami kaum wanita yang telah menikah. Bagaimana Islam mendudukkan perkara ini?

Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap dirinya daripada kedua orangtuanya. Sehingga ia lebih wajib menaati suaminya.

Allah Subhanahuwata'ala berfirman:

“Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (An-Nisa’: 34)

Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu.”

Dalam Shahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ummu Salamah radhiyallahuanha, ia berkata, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”

At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu dari Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan.”Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan lafadznya:

لَأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لِأَزْوَاجِهِنَّ، لِمَا جَعَلَ اللهُ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحُقُوْقِ

“…niscaya aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suami mereka dikarenakan kewajiban-kewajiban sebagai istri yang Allah bebankan atas mereka.”

Dalam Al-Musnad dari Anas radhiyallahuanhu bahwasanya Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَاَّلذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرَقِ رَأْسِهِ قَرْحَةً تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلحسَتْهُ مَا أَدّّتْ حَقَّهُ

“Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas/boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya, dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadap suaminya lalu menjilati luka/borok tersebut niscaya ia belum purna menunaikan hak suaminya.”

Dalam Al-Musnad dan Sunan Ibni Majah, dari Aisyah radhiyallahuanha dari Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَلَوْ أَنَّ رَجُلاً أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ، وَمِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ لَكاَنَ لَهَا أَنْ تَفْعَلَ

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Seandainya seorang suami memerintahkan istrinya untuk pindah dari gunung merah menuju gunung hitam dan dari gunung hitam menuju gunung merah maka si istri harus melakukannya.”

Demikian pula dalam Al-Musnad, Sunan Ibni Majah, dan Shahih Ibni Hibban dari Abdullah ibnu Abi Aufa radhiyallahuanhu, ia berkata:

لمَاَّ قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّام ِسَجَدَ لِلنَّبِيِّ n فَقَالَ: مَا هذَا يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَجَدْتُهُمْ يَسْجُدُوْنَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ تَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ .فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: لاَ تَفْعَلُوا ذَلِكَ، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأََلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

Tatkala Mu’adz datang dari bepergiannya ke negeri Syam, ia sujud kepada Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, maka beliau menegur Mu’adz, “Apa yang kau lakukan ini, wahai Mu’adz?”

Mu’adz menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.”

Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Jangan engkau lakukan hal itu, karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabbnya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya.”

Dari Thalaq bin Ali, ia berkata, Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ وَلَوْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ

“Suami mana saja yang memanggil istrinya untuk memenuhi hajatnya maka si istri harus/wajib mendatanginya (memenuhi panggilannya) walaupun ia sedang memanggang roti di atas tungku api.”

Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Shahih-nya dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan.”

Dalam kitab Shahih (Al-Bukhari) dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu'alaihi bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيْئَ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri menolak untuk datang, lalu si suami bermalam (tidur) dalam keadaan marah kepada istrinya tersebut, niscaya para malaikat melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.”

Hadits-hadits dalam masalah ini banyak sekali dari Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam.

Zaid bin Tsabit radhiyallahuanhu berkata, “Suami adalah tuan (bagi istrinya) sebagaimana tersebut dalam Kitabullah.” Lalu ia membaca firman Allah Subhanahuwata'ala:

“Dan keduanya mendapati sayyid (suami) si wanita di depan pintu.” (Yusuf: 25)

Umar ibnul Khaththab radhiyallahuanhu berkata, “Nikah itu adalah perbudakan. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat/memerhatikan kepada siapa ia memperbudakkan anak perempuannya.”

Dalam riwayat At-Tirmidzi dan selainnya dari Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ

“Berwasiat kebaikanlah kalian kepada para wanita/istri karena mereka itu hanyalah tawanan di sisi kalian.”

Dengan demikian seorang istri di sisi suaminya diserupakan dengan budak dan tawanan. Ia tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya baik ayahnya yang memerintahkannya untuk keluar, ataukah ibunya, atau selain kedua orangtuanya, menurut kesepakatan para imam.

Apabila seorang suami ingin membawa istrinya pindah ke tempat lain di mana sang suami menunaikan apa yang wajib baginya dan menjaga batasan/hukum-hukum Allah Subhanahuwata'ala dalam perkara istrinya, sementara ayah si istri melarang si istri tersebut untuk menuruti/menaati suami pindah ke tempat lain, maka si istri wajib menaati suaminya, bukannya menuruti kedua orangtuanya. Karena kedua orangtuanya telah berbuat zalim.

Tidak sepantasnya keduanya melarang si wanita untuk menaati suaminya. Tidak boleh pula bagi si wanita menaati ibunya bila si ibu memerintahnya untuk minta khulu’ kepada suaminya atau membuat suaminya bosan/jemu hingga suaminya menceraikannya. Misalnya dengan menuntut suaminya agar memberi nafkah dan pakaian (melebihi kemampuan suami) dan meminta mahar yang berlebihan, dengan tujuan agar si suami menceraikannya.

Tidak boleh bagi si wanita untuk menaati salah satu dari kedua orangtuanya agar meminta cerai kepada suaminya, bila ternyata suaminya seorang yang bertakwa kepada Allah Subhanahuwata'ala dalam urusan istrinya. Dalam kitab Sunan yang empat dan Shahih Ibnu Abi Hatim dari Tsauban radhiyallahuanhu, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْس َفَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“Wanita mana yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada apa-apa maka haram baginya mencium wanginya surga.”

Dalam hadits yang lain:

الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

“Istri-istri yang minta khulu’ dan mencabut diri (dari pernikahan) mereka itu wanita-wanita munafik.”

Adapun bila kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya memerintahkannya dalam perkara yang merupakan ketaatan kepada Allah Subhanahuwata'ala, misalnya ia diperintah untuk menjaga shalatnya, jujur dalam berucap, menunaikan amanah dan melarangnya dari membuang-buang harta dan bersikap boros serta yang semisalnya dari perkara yang Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya Shalallahu'alaihiwasallam perintahkan atau yang dilarang oleh Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya Shalallahu'alaihiwasallam untuk dikerjakan, maka wajib baginya untuk menaati keduanya dalam perkara tersebut. Seandainya pun yang menyuruh dia untuk melakukan ketaatan itu bukan kedua orangtuanya maka ia harus taat. Apalagi bila perintah tersebut dari kedua orangtuanya.

Apabila suaminya melarangnya dari mengerjakan apa yang Allah Subhanahuwata'ala perintahkan atau sebaliknya menyuruh dia mengerjakan perbuatan yang Allah Subhanahuwata'ala larang maka tidak ada kewajiban baginya untuk taat kepada suaminya dalam perkara tersebut. Karena Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.”

Bahkan seorang tuan (ataupun raja) andai memerintahkan budaknya (ataupun rakyatnya/orang yang dipimpinnya) dalam perkara maksiat kepada Allah, tidak boleh bagi budak tersebut menaati tuannya dalam perkara maksiat. Lalu bagaimana mungkin dibolehkan bagi seorang istri menaati suaminya atau salah satu dari kedua orangtuanya dalam perkara maksiat? Karena kebaikan itu seluruhnya dalam menaati Allah  Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya Shalallahu'alaihi wa sallam, sebaliknya kejelekan itu seluruhnya dalam bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

(Majmu’atul Fatawa, 16/381-383).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber :
http://asysyariah.com/antara-berbakti-kepada-orangtua-dan-taat-kepada-suami/

Dipublikasikan oleh:
http://bit.ly/telegramTIC
http://bit.ly/websiteTIC

WA Tholibul Ilmi Cikarang

__________

Minggu, 25 Juni 2017

Sambutan Raja Salman bin Abdul Aziz di Idul Fitri 1438 H

Wahai saudara-saudara di Kerajaan Arab Saudi, wahai kaum muslimin di berbagai penjuru bumi

Assalamualaikum warahmatullah wa barakatuh

Berbagai bentuk kegembiraan dan kebahagiaan memenuhi relung jiwa kita pada malam yang berbahagia ini. Setelah Allah berikan nikmat kepada kita kemampuan menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan Mubarak, dan shalat tarawih di malam harinya, serta berbekal dengan segala kesempatan besar yang ada padanya. Dengan ibadah yang Allah khususkan dengan balasan yang sangat banyak dan pahala yang sangat besar. Sebagaimana sabda Nabi — shallallahu alaihi wa sallam — meriwayatkan firman Allah, (artinya) : "Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, maka itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."

Maka kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq dalam ibadah puasa dan shalat malam, serta diberi petunjuk untuk beramal shalih.

Saudara-saudaraku kaum muslimin,

Islam telah membuat indah jiwa kemanusian dalam semua kondisi. Juga menjadikan momen Idul Fitri sebagai kesempatan besar untuk saling menjalin hubungan, menebarkan ruh kelapangan dada, persatuan, dan solidaritas antar individu masyarakat Islam. Sehingga orang kaya mendermakan hartanya kepada orang fakir dari sebagian rizki yang Allah karuniakan padanya, orang yang terzhalimi memaafkan orang yang menzhaliminya, dan kerabat saling menjalin tali silaturrahmi.

Saudara-saudaraku kaum muslimin ...
Sungguh dunia sekarang mengalami penderitaan akibat terorisme dengan segala jenis, aliran, dan modelnya.

Terorisme merupakan petaka masa ini. Terorisme mengakibatkan hancurnya ketenangan dan perdamaian yang selama ini menaungi masyarakat yang aman. Sungguh kami mengerahkan segala kemampuan kami demi keamanan dan ketenangan seluruh dunia.

Kerajaan Arab Saudi telah membuka hatinya untuk menyambut para tamu Allah ar-Rahman. Membentangkan seluruh pintunya untuk kaum muslimin yang datang mengunjunginya, baik sebagai para jamaah umrah, jamaah haji, maupun para peziarah.

Arab Saudi telah mengerahkan segenap kemampuan dan kesungguhan demi kenyamanan mereka, supaya mereka melaksanakan ibadah dan manasiknya dengan mudah, aman, dan tenang.

Kami memuji Allah yang telah menolong kami melaksanakan peran memberikan khidmat terhadap dua tanah suci yang mulia dan para pengunjungnya. Semoga para raja dan pemerintah negeri yang mubarakah ini bisa terus melanjutkan amal mulia ini, yang telah dijalankan sejak masa pendiri negara ini Raja Abdul Aziz Alu Su'ud rahimahullah.

Kami memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah yang Maha Mulia, dalam keadaan kami sekarang berada di sisi Ka'bah yang mulia, semoga Allah senantiasa menjaga keperkasaan dan kemuliaan Kerajaan Arab Saudi. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kami agar senantiasa memberikan khidmat terhadap agama dan berbuat demi kebaikan Islam dan muslimin.

Taqaballallahu minna wa minkum shalihal a'mal.
Kulla Am wa antum bi khair

Waalaikumus salam warahmatullah wa barakatuhu

Sumber : http://www.spa.gov.sa/1643407

#khadimulharamain #rajasalman
#teror #terorisme
#masjidil_haram

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟 @ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~

📮 Channel Telegram || https://telegram.me/salafysolo

Sabtu, 03 Juni 2017

Kisi-Kisi Bhs. Inggris UAS 2017 (Untuk Kls. VII dan VIII)


Anak-anak, maaf kelupaan, nih! Sesuai janji Pakmis beberapa hari yang lalu, hari ini Pakmis share kisi-kisi UKK mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas VIII dan kisi-kisi PUAG mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas VII. Langsung aja!

Yang ini untuk kelas VIII, silahkan di-klik!


dan yang ini untuk kls VII. Silahkan di-klik!



Semoga bermanfaat dan Salam Sukses!

Rabu, 31 Mei 2017

Untuk Para Pengagum Kecantikan Dan Ketampanan

Siapa yang tidak suka punya pasangan yang tampan atau cantik? Namun realita tidak selalu tampak indah di depan mata. Tidak semua yang kita idamkan dapat tercapai. Saudaraku dan saudariku, bagi yang telah memiliki pasangan hidup terkadang inilah realita yang harus dihadapi.

Memang benar ketika Sang Pencipta mengatakan :

ﻗﻠﻴﻞ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩﻱ ﺍﻟﺸﻜﻮﺭ

"Dan sedikit sekali hamba-hambaku yang mau bersyukur" (As Saba': 13)

Tidaklah sedikit mereka-mereka yang menyesali pernikahannya hanya karena pasangannya tidaklah menarik seperti yang dia harapkan. Maka disini mari kita resapi goresan sabda Nabi Sholallahu alaihi wa Sallam :

Dari Anas bin Malik radhiallahu‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

ﺇِﻥَّ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟَﺴُﻮﻗًﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻧَﻬَﺎ ﻛُﻞَّ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ ﻓَﺘَﻬُﺐُّ ﺭِﻳﺢُ ﺍﻟﺸَّﻤَﺎﻝِ ﻓَﺘَﺤْﺜُﻮ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻭَﺛِﻴَﺎﺑِﻬِﻢْ ﻓَﻴَﺰْﺩَﺍﺩُﻭﻥَ ﺣُﺴْﻨًﺎ ﻭَﺟَﻤَﺎﻻً ﻓَﻴَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻴﻬِﻢْ ﻭَﻗَﺪِ ﺍﺯْﺩَﺍﺩُﻭﺍ ﺣُﺴْﻨًﺎ ﻭَﺟَﻤَﺎﻻً ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻬُﻢْ ﺃَﻫْﻠُﻮﻫُﻢْ : ﻭَﺍﻟﻠﻪِ، ﻟَﻘَﺪِ ﺍﺯْﺩَﺩْﺗُﻢْ ﺑَﻌْﺪَﻧَﺎ ﺣُﺴْﻨًﺎ ﻭَﺟَﻤَﺎﻻً . ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ : ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠﻪِ، ﻟَﻘَﺪِ ﺍﺯْﺩَﺩْﺗُﻢْ ﺑَﻌْﺪَﻧَﺎ ﺣُﺴْﻨًﺎ ﻭَﺟَﻤَﺎﻻ

"Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik" (HR. Muslim No.7324‏)

Renungi baik-baik hadits ini wahai para suami dan istri! Dari hadits ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa ketampanan dan kecantikan yang hakiki adalah di akhirat kelak.

Maka hendaknya para suami dan istri bersabar bila pasangannya tidak menarik namun mereka adalah orang yang taat pada Robbnya. Karena masa kesabaran tersebut sangatlah singkat hanya memakan waktu puluhan tahun. Namun, setelah itu dia akan menikmati buah kesabarannya selama-lamanya. Dia akan menikmati ketampanan dan kecantikan pasangannya yang terus bertambah setiap hari, tanpa batas waktu. 

Janganlah engkau tertipu dengan ketampanan dan kecantikan orang-orang yang telah melangar larangan Robbnya dari kalangan orang-orang kafir dan ahli maksiat. Memang di dunia yang fana ini mereka tampak tampan dan cantik. Namun ketahuilah, itu semua adalah semu bagaikan fatamorgana.

Lihatlah wajah asli mereka di akhirat kelak. Sebagaimana yang dikabarkan Allah Jalla wa Azza :

( ﻳَﻮْﻡَ ﺗَﺒْﻴَﺾُّ ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻭَﺗَﺴْﻮَﺩُّ ﻭُﺟُﻮﻩٌ ۚ ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺳْﻮَﺩَّﺕْ ﻭُﺟُﻮﻫُﻬُﻢْ ﺃَﻛَﻔَﺮْﺗُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﻓَﺬُﻭﻗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏَ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ)

"Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu".
Ali Imron : 106

Di akhirat kelak mereka yang membanggakan ketampanan dan kecantikannya ketika di dunia namun jauh dari Robbnya, wajah mereka akan menghitam dan menjadi sejelek-jelek wajah.

Renungkanlah wahai para pengagum keindahan!

Abu Sufyan Al Musy Ghofarohullah
________
6 Jumadil Akhir 1437
Daarul Hadits Al Bayyinah
Sidayu Gresik
Harrosahallah

Kunjungi:http://www.ilmusyari.com/2016/03/untuk-para-pengagum-kecantikan-dan.html?m=1

Dipublikasikan oleh:
http://bit.ly/telegramTIC
http://bit.ly/websiteTIC

WA Tholibul Ilmi Cikarang

Sabtu, 27 Mei 2017

25 Hal Yang Membatalkan Puasa?

Pembatal-pembatal puasa yang paling banyak ditanyakan tentang hukumnya :

1. Suppositoria (obat berbentuk peluru yg dimasukkan ke dalam anus atau yang semisalnya).
Tidak membatalkan puasa. [Menurut pendapat Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh.]

2. Tetes mata
Tidak membatalkan puasa. [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh].

3. Celak
Tidak membatalkan puasa [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin].

4. Tetes telinga
Tidak membatalkan puasa. [Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh]

5. Tetes hidung
Jika sampai masuk ke lambung maka membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]
Adapun Asy-Syaikh Ibnu Baz berpendapat tetes hidung TIDAK BOLEH bagi orang yang berpuasa. Dan barangsiapa yang mendapati rasanya di tenggorokannya,  maka wajib baginya untuk mengqodho' (yakni batal puasanya).

6. Sprayer (semprot) asma
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Baz, aay-Syaikh Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah rahimahumulloh].

7. Suntikan Nutrisi
Membatalkan puasa. 👉🏽Adapun suntikan otot, pembuluh darah atau kulit maka tidak membatalkan.
[Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

8.Suntik Penicillin
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

9. Suntikan Insulin bagi penderita diabetes.
Tidak membatalkan puasa. [Al-Lajnah ad-Daimah].

10. Suntik bius (anastesi) pada gigi, menambal dan membersihkannya.
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulloh].

11. Menghirup bukhur (asap gaharu) dengan sengaja dalam keadaan tahu.
Membatalkan puasa. Adapun sekedar mencium aroma bukhur tanpa sengaja menghirupnya, maka TIDAK membatalkan. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

12. Memakai minyak wangi dan menghirupnya
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

13. Pelembab bibir
Tidak membatalkan puasa, dengan syarat tidak ada yg tertelan sedikitpun darinya. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

14. Make up
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

15. Muntah dengan sengaja
Membatalkan puasa.  Adapun jika tidak sengaja maka tidak membatalkan. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

16. Epistaksis (mimisan), cabut geraham disertai keluarnya darah.
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

17. Diambil darah untuk diperiksa
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

18. Ihtilam (mimpi basah)
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

19. Berenang dan menyelam
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

20. Obat kumur (semisal listerin)
Tidak membatalkan puasa. Dengan syarat tidak ada yang tertelan sedikitpun darinya. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

21. Siwak
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

22. Pasta gigi (gosok gigi)
Tidak membatalkan puasa selama tidak sampai Ke lambung. Akan tetapi yang lebih baik utama tidak menggunakannya, karena memiliki pengaruh (rasa) yang kuat.

23. Menelan dahak
Tidak membatalkan puasa. [Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]. Adapun asy Syaikh ibnu Baz rahimahulloh berpendapat dahak/riak (النخامة) tidak boleh ditelan dan wajib dibuang (tambahan dari pent).

24. Mencicipi makanan
Tidak membatalkan puasa, akan tetapi tidak boleh menelannya, dan tidak melakukannya kecuali memang dibutuhkan.

25. Koyo nikotin
Membatalkan puasa. [al-Lajnah ad-Daimah]



••••
🏽 Alih Bahasa : Al-Ustadz Syafi'i al Idrus Hafizhohulloh

Dari : "Tanbiihaat Syahri Ramadhon" | Faidah dari Majmu'ah Manaabir al-Kitab was Sunnah dengan sedikit perubahan.


Forum Ahlussunnah Ngawi dinukil dari bit.ly/PuasaRamadhan

Kamis, 25 Mei 2017

Antara Nabi Yusuf Dengan Ramadhan

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:  Bulan itu jumlahnya ada dua belas, seperti anak-anaknya Ya’qub alaihis-Salam. Bulan Ramadhan diantara bulan lainnya itu ibaratnya seperti Nabi Yusuf diantara saudaranya.

Sebagaimana Yusuf itu adalah anak yang paling dicintai oleh Ya’qub.

Demikian juga Ramadhan adalah Bulan yang paling dicintai oleh dzat yang mengetahui alam ghaib.

Saudaranya Yusuf datang (ke Mesir) dengan sengaja kepada Yusuf meminta kecukupan dan dihilangkan kesusahan (musim paceklik kala itu). Padahal sebelumnya mereka pernah berbuat kesalahan dan kekeliruan. Maka Yusuf berbuat baik kepada mereka dalam jamuan dan memperbaiki keadaan mereka.

Yusuf memberi makanan kepada mereka di kala kelaparan dan mengijinkan mereka kembali.

Maka satu orang (Yusuf) bisa menutupi kebutuhan sebelas orang (saudaranya).
Demikian juga bulan Ramadhan, Kita berharap bisa menutupi dalam Ramadhan segala apa yang pernah kita remehkan di bulan-bulan lainnya.

Kita bisa memperbaiki padanya segala apa yang rusak dari urusan kita, maka kita akan menutup dengan kebahagiaan dan kesenangan.

Isyarat lainnya, Ya’qub kembali penglihatannya setelah mencium aroma Yusuf, maka beliau menjadi kuat kembali setelah sebelumnya dalam keadaan lemah, menjadi bisa melihat setelah sebelumnya buta.

Demikian juga seorang pelaku maksiat jika mencium aroma Ramadhan.
(Dia akan menjadi kuat semangat ibadahnya yang sebelumnya lemah. Dia menjadi bisa melihat yang mana sebelumnya dia buta mata hatinya dengan maksiat.)



Dari kitab: Bustaan Al-Waa’izhin wa Riyadhu As-Sami’iin Karya Ibnul Jauzi rahimahullah.
Sumber: https://telegram.me/fawaz_almadkali
Kunjungi: http://bit.ly/2rGb3kO
WhatsApp Salafy Indonesia

Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy