Renungan Pagi : LETIHNYA MENDIDIK ANAK YANG TERBALASKAN *)

Renungan Pagi : LETIHNYA MENDIDIK ANAK YANG TERBALASKAN *)

Fadhilatus Syaikh Fawwaz Al-Madkholi حفظه اللّٰه تعالى.

Terkadang hati merasa letih dari mendidik anak-anak dan jiwa merasa sesak karena kenakalan mereka yang menjadi sebab terjadinya kegundahan dan kesedihan bagi kedua orangtua.

Berkata Al-'Allamah Ibnul Qoyyim rohimahulloh:

"Sesungguhnya diantara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditebus kecuali dengan kesedihan yang disebabkan oleh anak-anak".

Maka berbahagialah bagi siapapun yang mencurahkan perhatiannya kepada pendidikan anak-anaknya di atas apa yang dicintai Alloh dan diridhoi-Nya / berbahagialah bagi kalian yang mendapatkan jalan untuk menebus segala dosa.

Sekalipun kalian mendapatkan dari anak-anak kalian hal-hal yang dapat menjadikan kalian letih dalam mendidik mereka maka beristighfarlah kepada Tuhan kalian.

Suatu hari Muqotil bin Sulaiman rohimahulloh masuk menemui Al-Manshur rohimahulloh di hari diangkatnya beliau sebagai Kholifah, maka Al-Manshur berkata kepadanya:

"Berikan nasehat kepadaku wahai Muqotil !"

Maka Muqotil pun bertanya: "Aku akan menasehati engkau dengan apa yang telah aku lihat atau dengan apa yang telah aku dengar?

Al-Manshur pun menjawab: "Dengan apa yang telah engkau lihat".

Muqotil mengatakan: "Wahai, Amirul Mu'minin! Sesungguhnya 'Umar bin 'Abdil 'Aziz (Kholifah sebelumnya, pent) telah dikaruniai 11 anak dan beliau meninggalkan harta waris (hanya) 18 dinar, beliau dikafani dengan kain senilai 5 dinar, dan dibelikan untuknya tanah kuburan senilai 4 dinar dan sisanya dibagikan kepada anak-anaknya.

Sedangkan Hisyam bin Abdil Malik (Khalifah dinasti Umawiyyah, pent) dikaruniai 11 anak, dengan bagian setiap masing-masing anak dari harta waris 1 juta dinar.

Dan demi Alloh... wahai, Amirul Mu'minin. Sungguh aku telah melihat dalam 1 hari salah satu putra 'Umar bin 'Abdil 'Aziz bersedekah dengan 100 ekor kuda untuk berjihad di jalan Alloh, sedangkan salah satu putra Hisyam sedang meminta-minta di pasar-pasar.

Dan orang-orang telah bertanya kepada 'Umar bin 'Abdil 'Aziz dikala beliau terbaring diatas ranjang kematiannya: “Apa yang telah engkau tinggalkan untuk anak-anak engkau wahai 'Umar?

Beliau katakan: “Aku telah tinggalkan bagi mereka ketaqwaan kepada Alloh, maka jika mereka adalah orang-orang yang sholeh maka Alloh pasti akan menolong orang-orang yang sholeh, namun jika mereka tidak demikian maka aku tidaklah meninggalkan bagi mereka apa yang membantu mereka untuk bermaksiat kepada Alloh ta'ala.”

MAKA PERHATIKANLAH...

Kebanyakan manusia berusaha dan berupaya serta bersusah payah untuk memberikan jaminan masa depan anak-anaknya dengan asumsi bahwa dengan adanya harta di tangan-tangan mereka sepeninggal dirinya merupakan kesejahteraan bagi mereka, NAMUN DIA LALAI DARI JAMINAN AGUNG YANG TELAH ALLOH SEBUTKAN DI DALAM KITAB-NYA:

(وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا)
[سورة النساء 9]

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." [Qs. An-Nisaa: 9]

MAKA PELAJARILAH AYAT TERSEBUT DENGAN BENAR!
●○●○●○●○●

*) Judul berasal dari penterjemah.

🌏 Faedah dari ust. Abul Harits Mushlih di Forum البركة مع أكابركم .

Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh غفر اللّٰه له ولوالديه.
------------------------------------------------

🌺 ﻓﻮﺍﺯ ﺍﻟﻤﺪﺧﻠﻲ

ﻣﻬﻢ ﺟﺪﺍً ﺟﺪﺍً

🍂ﻗﺪ ﻳﺘﻌﺐ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻣﻦ ﺗﺮﺑﻴﺔ ﺍﻷﺑﻨﺎﺀ ﻭﺗﻌﺎﻧﻲ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻣﻦ
ﺗﻤَﺮّﺩِﻫِﻢ،
ﻣﻤﺎﻳﺴﺒﺐ ﺍﻟﻬﻢّ ﻭﺍﻟﻐﻢ ﻟﻠﻮﺍﻟﺪﻳﻦ .
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :
ﺇﻥّ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻣﺎﻻ ﻳﻜﻔّﺮﻩ ﺇﻻ ﺍﻟﻬﻢّ ﺑﺎﻷﻭﻻﺩ .
ﻓﻬﻨﻴﺌﺎ ﻟﻜﻞ ﻣﻦ ﺍﻫﺘﻢ ﺑﺘﺮﺑﻴﺔ ﺃﺑﻨﺎﺀﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﻳﺤﺒﻪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﻳﺮﺿﺎﻩ / ﻫﻨﻴﺌﺎ ﻟﻜﻢ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻟﺘﻜﻔﻴﺮ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ .
?
  و ان  ﻭﺟﺪﺗﻢ ﻣﻦ ﺃﺑﻨﺎﺋﻜﻢ ﻣﺎ ﻳﺘﻌﺒﻜﻢ ﻓﻲ ﺗﺮﺑﻴﺘﻬﻢ
ﻓﺄﺳﺘﻐﻔﺮﻭﺍ ﺭﺑﻜﻢ .
ﺩﺧﻞ " ﻣﻘﺎﺗﻞ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ " ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻠﻰ "ﺍﻟﻤﻨﺼﻮﺭ "
ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻳﻮﻡ ﺑُﻮﻳﻊَ ﺑﺎﻟﺨﻼﻓﺔ،
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ "ﺍﻟﻤﻨﺼﻮﺭ " ﻋِﻈﻨﻲ ﻳﺎ "ﻣﻘﺎﺗﻞ " !
ﻓﻘﺎﻝ : ﺃﻋﻈُﻚ ﺑﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻡ ﺑﻤﺎ ﺳﻤﻌﺖ؟
ﻗﺎﻝ : ﺑﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ .
ﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻴﻦ !
ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺃﻧﺠﺐ ﺃﺣﺪ ﻋﺸﺮ ﻭﻟﺪﺍ ً ﻭﺗﺮﻙ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ
ﻋﺸﺮ ﺩﻳﻨﺎﺭﺍ ً ، ﻛُﻔّﻦَ ﺑﺨﻤﺴﺔ ﺩﻧﺎﻧﻴﺮ ، ﻭﺍﺷﺘُﺮﻱَ ﻟﻪ ﻗﺒﺮ
ﺑﺄﺭﺑﻌﺔ ﺩﻧﺎﻧﻴﺮ ﻭَﻭﺯّﻉ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻨﺎﺋﻪ .
ﻭﻫﺸﺎﻡ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺃﻧﺠﺐ ﺃﺣﺪ ﻋﺸﺮ ﻭﻟﺪﺍ ً ، ﻭﻛﺎﻥ
ﻧﺼﻴﺐ ﻛﻞّ ﻭﻟﺪ ٍ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﻛﺔ ﻣﻠﻴﻮﻥ ﺩﻳﻨﺎﺭ .
ﻭﺍﻟﻠﻪ ... ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻴﻦ :
ﻟﻘﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ٍ ﻭﺍﺣﺪ ٍ ﺃﺣﺪ ﺃﺑﻨﺎﺀ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ
ﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﻤﺎﺋﺔ ﻓﺮﺱ ﻟﻠﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ،
ﻭﺃﺣﺪ ﺃﺑﻨﺎﺀ ﻫﺸﺎﻡ ﻳﺘﺴﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻷﺳﻮﺍﻕ .
ﻭﻗﺪ ﺳﺄﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﻓﺮﺍﺵ
ﺍﻟﻤﻮﺕ : ﻣﺎﺫﺍ ﺗﺮﻛﺖ ﻷﺑﻨﺎﺋﻚ ﻳﺎ ﻋﻤﺮ ؟ ﻗﺎﻝ : ﺗﺮﻛﺖ ﻟﻬﻢ
ﺗﻘﻮﻯ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺻﺎﻟﺤﻴﻦ ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﺘﻮﻟﻰ
ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﻠﻦ ﺃﺗﺮﻙ ﻟﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﻌﻴﻨﻬﻢ
ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .
ﻓﺘﺄﻣﻞ ...
ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺴﻌﻰ ﻭﻳﻜﺪ ﻭﻳﺘﻌﺐ ﻟﻴﺆﻣﻦ ﻣﺴﺘﻘﺒﻞ ﺃﻭﻻﺩﻩ
ﻇﻨﺎ ﻣﻨﻪ ﺃﻥ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻲ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﺃﻣﺎﻥ ﻟﻬﻢ،
ﻭﻏﻔﻞ ﻋﻦ ﺍﻷﻣﺎﻥ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ :
‏) ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَﺎﻓًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮﺍ
ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﺳَﺪِﻳﺪًﺍ ‏( .
ﺗﺪﺑﺮﻫﺎ ﺟﻴﺪﺍ

------------------------------------------------
🌏 WA Ahlus Sunnah Karawang.
----------------------
Broadcast by : Ahlus Sunnah Karawang;
Channel MutiaraASK, http://tlgrm.me/MutiaraASK
Website ASK, http://bit.ly/BlogASK
BBM Mutiara Salaf, Pin:5F0E3F06 |Channel:C001C7FFE
#renungan pagi
--------------------🔺-------------------
Whatsapp Salafy Solo
Channel Telegram:
https://tlgrm.me/salafysolo
--------------------🔻-------------------
Sabtu, 19 Shafar 1438 H

19 Nopember 2016

AL YAKIN

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Tidaklah seorang hamba meyakini surga dan neraka dengan keyakinan yang sebenar-benarnya melainkan (pasti menjadi) khusyu’, kurus-layu, istiqamah, dan sederhana hingga maut datang menjemputnya.”

Dan beliau berkata:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya di antara (tanda) lemahnya keyakinanmu (imanmu) adalah engkau lebih percaya dengan apa yang berada di tanganmu daripada apa yang berada di tangan Allah Subhanahu Wata’ala.” 

(Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 77-78)

MERENUNGI RENTETAN PERISTIWA DI IAIN

Sungguh memilukan, hati terasa tersayat-sayat, kalbu serasa berontak, dan emosi meluap, saat mendengar, membaca, bahkan melihat berbagai kejadian yang amat memukul, terjadi di berbagai instansi berlabel Islam, entah itu institut, sekolah tinggi, atau universitas Islam.

Tercatat sebuah perubahan besar dalam sejarah IAIN[1], dengan munculnya Harun Nasution[2] yang menawarkan berbagai perubahan dengan mengusung slogan Islam Rasional. Bukunya yang kontroversial, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, dikukuhkan oleh Departemen Agama RI - berdasarkan rapat rektor IAIN se-Indonesia pada bulan Agustus 1973 di Ciumbuleuit Bandung - sebagai buku wajib bagi setiap mahasiswa IAIN, apa pun fakultas dan jurusannya. Kala itu, buku ini mendapat tantangan dan reaksi yang sangat keras dan tajam dari Prof. Dr. H.M. Rasjidi, Menteri Agama RI pertama. Beliau khawatir akan pengaruh buku tersebut bagi angkatan muda Islam, karena menurutnya: “Karangan Dr. Harun Nasution yang diwajibkan untuk dipelajari mahasiswa IAIN adalah buku yang penuh fikiran kaum orientalis yang beragama Kristen.

Pernyataan bahwa Tuhan tidak perlu ditakuti tetapi dicintai adalah kata Kristen. Agama monotheisme adalah Islam, Yahudi, Kristen (Protestan dan Katolik), dan Hindu; adalah fikiran comparative religious yang ditimbulkan oleh orang-orang yang mengaku berdasar ilmiah dengan tidak berguna sedikitpun. Orang-orang yang kotor tidak akan diterima kembali ke sisi yang Mahasuci, adalah ekspresi Kristen, pengaruh dari Neo Platonisme dan Gnosticisme.”[3], demikian ungkapnya.

Dari UIN Syarif Hidatullah Jakarta, tercetak tokoh-tokoh liberal yang bertitel tinggi, siap mengerahkan kemampuannya untuk menjunjung tinggi panji-panji liberalisme dalam beragama, semacam Azyumardi Azra, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Abdul Muqsith Ghozali, Siti Musdah Mulia, dan sederet nama lainnya.

Dari IAIN Sunan Gunung Djati (kini UIN Sunan Gunung Djati, red.) Bandung, meledak kejadian yang sangat menghebohkan. Diperankan oleh anak-anak muda berpenampilan mirip berandalan, berambut panjang dengan mulut yang tersumbat rokok, dan berjalan sombong, mengajak mahasiswa baru untuk berzikir dengan mengucapkan “anjing-hu akbar.” Tiada rasa takut dan tiada rasa malu. Ucapan kekafiran itu bahkan ia keluarkan dengan penuh kecongkakan. Terdengar pula sebelumnya suara sambutan dari yang lain, “Selamat bergabung di area bebas tuhan!” Suara ingkar atas kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala itu pun terdengar oleh para mahasiswa baru yang dia sambut. Menyusul pula berikutnya teriakan “…Tuhan yang takut kepada akal manusia… Tuhan pengecut,” bersama kata-kata ingkar dan kekafiran yang lain saling menyahut. Seolah kekafiran yang dilombakan untuk diperebutkan oleh anak-anak muda mirip berandal tersebut. Subhanallah, hanya kepada-Mu kami mengadu.

Dari IAIN Walisongo Semarang, terbit sebuah jurnal yang kemudian dibukukan. Judulnya, Indahnya Kawin Sesama Jenis. Tanpa sopan santun dan rasa malu, penulisnya mengajak untuk melegalkan perkawinan sesama lesbian dan sesama gay, disertai dengan arogansi penghinaan terhadap Nabiyullah Luth ‘alaihissalam serta sikap membabi buta dalam mengingkari ayat dan kandungannya.

Tersentak pula jiwa ini ketika membaca bahwa IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN Sunan Kalijaga, red.) Yogyakarta telah meluluskan sebuah tesis dengan judul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan. Tanpa menyadari kadar dirinya dan menyadari kebesaran Rabbnya sekaligus kalam-Nya, penulis tesis itu menggoreskan tinta penanya untuk menggugat wahyu Illahi. Apa lagi yang tersisa dari agama ini bila wahyu telah dilancangi?

Terdengar dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, seorang dosen mencoreng kesucian wahyu. Dengan penuh “keberanian” terhadap Penciptanya, ia tuliskan lafadz Allah subhanahu wa ta’ala dalam secarik kertas lalu menginjak-injaknya, sembari menunjukkan penghinaan.

Hasbunallah wa ni’mal wakil. Saya menarik nafas panjang-panjang dengan pikiran yang penuh gundah gulana. Tak habis pikir. Duduk termenung sambil bertanya-tanya, “Sejauh inikah kerusakan? Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini…?” Menggelayut dalam pikiran saya, “Apa yang mesti saya perbuat?” “Ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai,” itulah ungkapan yang tepat untuk apa yang tersimpan dalam dada ini.

Namun saya harus berbuat sebatas kemampuan yang ada, walau sekadar kritik yang membangun. Kaum muslimin sendiri juga harus berbuat. Semuanya itu tidak boleh dibiarkan bergulir, menggelinding bagai bola salju, yang pada akhirnya anak-anak kaum muslimin menjadi korbannya.[4]

Wallahul musta’an.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

[1] Istilah IAIN sebenarnya hanya mewakili dari keseluruhan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang meliputi PTAIN (STAIN, IAIN, dan UIN), PTAIS, dan Fakultas Agama Islam (FAI) di PT umum. Penggunaan istilah ini hanya untuk memudahkan, namun juga tidak untuk menggeneralisasi.

[2] Mantan Rektor (1973-1984) dan Dekan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia memperoleh gelar MA dan Doktor dari Institute of Islamic Studies McGill University, Montreal, Kanada. Gelar doktornya ia peroleh pada tahun 1968.

[3] http://www.scribd.com/doc/5485468/TOKOH-JIL-HARUN-NASUTION

[4] Catatan: mayoritas penukilan yang sifatnya data dalam artikel ini dan yang setelahnya diambil dari buku 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia dan kata pengantarnya.

Selesai

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

April 24, 2012 | Asy Syariah Edisi 063, Kajian Utama
▶ Klik join telegram 🔽
🔵 http://bit.ly/FadhlulIslam
🌍 www.salafymedia.com
📡 Publikasi: WA Fadhlul Islam Bandung

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

APAKAH ORANG TUA RASULULLAH ﷺ KAFIR DAN MASUK NERAKA?

Al-Ustadz Abu Muawiyah Asykari hafidzahullah

Tanya Jawab Ba'da Dars Bulughul Maram
Ma'had Ibnul Qoyyim Balikpapan
26 Syawal 1437 H / 29 Juli 2016
Durasi 10:58 (2,55 MB)


Sumber:
@AudioThalabIlmuSyar_i
______
🔍 مجموعــــــة توزيع الفــــوائد

💾 Channel Telegram:
👉🏽 tlgrm.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]

video

MEMANG LIDAH TAK BERTULANG

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang demikian besar. Ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (al-Ahzab: 70)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Imam al-Bukhari hadits no. 6089 dan al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Lisan (lidah) memang tak bertulang. Sekali kita gerakkan, sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami-istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid, dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (al-Adzkar hlm. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.” (al-Adzkar hlm. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari segala pembicaraan, kecuali yang telah jelas maslahatnya. Bila berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menyeret pada pembicaraan yang haram atau dibenci. Hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah subhanahu wa ta’ala yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:
  • Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
  • Abu ad-Darda’ radhiallahu ‘anhu: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang: orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
  • Al-Fudhail rahimahullah: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
  • Sufyan ats-Tsauri rahimahullah: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
  • Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
  • Abu Hatim rahimahullah: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu. Jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya membuat dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
  • Yahya bin ‘Uqbah rahimahullah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan daripada lisan’.”
  • Mu’arrif al-‘Ijli rahimahullah: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak sepuluh tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu, wahai Abu al-Mu’tamir?” Mu’arrif menjawab, “Diam dari segala hal yang tidak berfaedah bagiku.”(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhalakarya Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti, hlm. 37—42)
Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

  • Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allahsubhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)
    • Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.
      Dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:
      مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

      (Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya. (Sahih,HR. al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)
      • Mendapat jaminan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk surga.
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu:

      مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

      “Barang siapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya (mulut/lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. al-Bukhari no. 6088)
      Dalam riwayat al-Imam at-Tirmidzi (no. 2411) dan Ibnu Hibban (no. 2546), dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
      “Barang siapa dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya serta kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”
      • Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

      إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ

      “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. al-Bukhari no. 6092)

      Dalam riwayat al-Imam Malik, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dari sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiallahu ‘anhubahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala), lalu Allah subhanahu wa ta’ala mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

      Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, serta diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.

      Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an-Nawawi

      Baca juga :
      https://muhammadqosim.wordpress.com/2010/07/21/menjaga-lidah-yang-tak-bertulang/

      Bimbingan Syar’i Dalam Ber-‘Idul Fitri

      Tulisan ini adalah penggabungan dari serangkaian tulisan Al Ustadz Qomar Su'aidy Lc. hafizahulloh yang saya peroleh secara berseri dari group WhatsApp yang saya ikuti (WSI: WhatsApp Salafy Indonesia 3). Semoga kita bisa mendapat faedah ilmu darinya dalam rangka usaha ittiba' kita kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, insya Allahu ta'ala. Anda dapat mengunduh tulisan ini dalam versi pdf di sini.

      Berlian Yang Terbuang

      Al Yazidi pernah datang bertamu ke rumah kawannya, Al Khalil bin Ahmad. Kawannya tersebut adalah seorang ulama ahli hadits tersohor di masanya. Sambutan hangat dari Al Khalil mengiringi perjumpaan dua orang sahabat yang sangat erat hubungannya. Al Khalil yang sedang duduk di atas bantal kecil segera saja mempersilahkan Al Yazidi untuk duduk bersama di atas bantal itu.

      Aku takut membuat dirimu tidak terlalu nyaman. Bantal ini tidak akan mencukupi untuk kita berdua”, Al Yazidi beralasan.

      Antara Puasa dan Bersabar

      Berkata Ibnu Rajab Al Hanbali Rahimahullah :
      Sabar ada tiga macam:
      1. Bersabar di atas ketaatan kepada Allah ta'aala
      2. Bersabar dari sesuatu yang di haramkan oleh Allah ta'aala.
      3. Bersabar atas taqdir yang buruk.
      Dan seluruh dari tiga macam sabar tersebut, terdapat pada ibadah puasa, karena sesungguhnya di dalam ibadah puasa:

      Hatimu Mati Karena Sepuluh Hal

      Ibrahim bin Adham - rahimahullah - lewat di pasar Bashrah. Maka manusia berkumpul mendatanginya, seraya bertanya kepadanya, "Wahai Abu Ishaq, kenapa kami berdoa namun doa kami tidak dikabulkan? "

      Ibrahim bin Adham menjawab : "Karena hati kalian telah MATI disebabkan oleh 10 hal."

      Mereka bertanya, "Apakah sepuluh hal itu? "

      Shalat Tarawih 11 Rakaat atau 23 Rakaat?

      Pertanyaan :
      Bismillah. Afwan nanya ustadz. Ana mewakili ikhwan yang sedang umra. Mereka bertanya shalat tarawihnya sebaiknya ikut imam 23 rakaat atau ambil yang 11 rakaat saja. Kemudian apa hukumnya jika tarawih 11 rakaat berjamaah di masjid, namun sholat witirnya di rumah. Jazakallahu khaer.

      Kategori

      Kategori