Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh
Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Senin, 19 November 2018

Arti Sebuah Cinta


Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah, dan berbagai kenik-matan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Namun cinta apakah yang paling tinggi dan mulia?

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk memahami hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikit pun.

Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya serta menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.” Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air bah. Dan Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian, dan benar-benar Allah subhanahu wa ta’ala akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan al-wahn, ya Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud no. 4297, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan pula perbedaan besar antara dua negeri tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka serta menanamkannya di dalam hati-hati mereka. Semuanya berakhir pada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta, dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”

Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas. Bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas. (Berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta

Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia akan menjadi ibadah. Sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. 


Berarti jelas, bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu kesyirikan.

Cinta Kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Cinta yang dibangun karena Allah subhanahu wa ta’ala akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata, ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ujian kepada mereka:


قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ 
“Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian’.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata, “(Firman Allah subhanahu wa ta’ala) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut, buah serta faedahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala) adalah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Faedah dan buahnya adalah kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.

Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena Allah subhanahu wa ta’ala, tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْأَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal yang jika ketiganya ada pada diri seseorang niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman: hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, hendaklah dia mencintai seseorang serta tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa di antara sebab-sebab datangnya cinta Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang hamba ada sepuluh perkara:

  • Pertama, membaca Al-Qur’an, menggali dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya. 
  • Kedua, mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib. 
  • Ketiga, terus-menerus berzikir dalam setiap keadaan. 
  • Keempat, mengutamakan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu. 
  • Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala, menyaksikan dan mengetahuinya. 
  • Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala dan segala nikmat-Nya. 
  • Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. 
  • Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah subhanahu wa ta’ala turun (ke langit dunia). 
  • Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur. 
  • Kesepuluh, menjauhkan segala sebab yang akan menghalangi hati dari Allah subhanahu wa ta’ala. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas) 

Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ 
“Tetapi Allah menjadikan kamu mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (al-Hujurat: 7)

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ 
“Dan orang-orang yang beriman lebih mencintai Allah.” (al-Baqarah: 165)

فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ 
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (al-Maidah: 54) 

Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah, “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”

Macam-Macam Cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Yamani rahimahullah dalam kitab al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hlm. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam.

  • Pertama, Cinta Ibadah, yaitu mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas. 

  • Kedua, Cinta Syirik, yaitu mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan juga selain-Nya seperti cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah). Mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)



  • Ketiga, Cinta Maksiat, yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 

وَتُحِبُّونَ ٱلۡمَالَ حُبّٗا جَمّٗا ٢٠

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (al-Fajr:20)

  • Keempat, Cinta Tabiat, seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta, dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: 
إِذۡ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam) berkata, ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf:8)

Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih mencintai perkara-perkara tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.


Buah Cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah subhanahu wa ta’ala ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya. Bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (al-Qaulus Sadid, hlm. 110)

Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.

  • Pertama, bila dia mencintai selain Allah subhanahu wa ta’ala lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah ‘azza wa jalla maka ini adalah cinta syirik. Hukumnya jelas haram.
  • Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat. Hukumnya haram.
  • Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an-Nawawi

Jumat, 16 November 2018

Jauhilah Sifat Bangga Diri, Wahai Saudaraku!


Assyaikh Al-Allamah Abdullah Ibnu Abdirrahim al-Bukhari hafidzahullah :

Telah disebutkan banyak ungkapan-ungkapan  dari imam-imam Sunnah yang memperingatkan dari bahaya sifat ingin terdepan, ambisi syahwat ingin terdepan, serta senang terhadap kepemimpinan, oleh karena ini tidak satu dari para imam mengatakan:

"Tidaklah kamu mendapati seseorang yang mencari jabatan dan kepemimpinan melainkan  wal'iyadzubillah dia bangga terhadap dirinya".

Kalau seandainya kamu membaca biografi para imam (ahlussunnah) niscaya kamu akan mendapati bahwa mereka menjauh dan memerangi sifat tersebut serta lari darinya sebagaimana larinya mereka dari singa.

Perhatikan imam satu ini , Ubaidullah Ibnu Abi Ja'far almishri alfaqih, beliau tsiqah, beliau termasuk rawi yang disebutkan di dalam Kutubussittah, salah satu ulama yang terpercaya, sangat berilmu, beliau memiliki ungkapan-ungkapan yang agung.

Dan disebutkan di dalam biografinya bahwa beliau adalah salah satu dari cendekiawan, didalam ucapannya terdapat hikmah dan pelajaran, termasuk dari ucapan beliau yang disebutkan dalam biografinya didalam kitab Tahdzibulkamal dan selainnya seakan-akan beliau membimbing penuntut ilmu beliau mengatakan :

"Apabila kamu didalam suatu majelis, kamu bangga terhadap dirimu disaat kamu berbicara maka diamlah ketika itu, dan jika kamu kagum terhadap dirimu ketika kamu diam maka berbicaralah", maknanya adalah lihatlah kepada dirimu dan selisihilah dia. 

Sifat bangga diri yang ada pada seseorang merupakan tanda bahwa akalnya lemah.

Setiap seseorang yang bangga terhadap dirinya, cinta terhadap kepemimpinan dan ingin tampil dan selain itu (dari sifat-sifat yang semisalnya) maka dia telah membinasakan dirinya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr didalam kitab Jami' Bayanil'ilm Wafadhlihi :
"Sifat bangga diri menghancurkan kebaikan-kebaikan semuanya" .

Jika kamu perhatikan sekumpulan dari para penghafal dan perawi hadits, sebagian mereka ada yang bangga terhadap dirinya, maka penyebutannya terpadamkan disebabkan rasa ujubnya, maka ini adalah penyakit dan musibah.

Sebagaimana disebutkan dalam biografi Ahmad Ibnu Kamil Al-Baghdadi, berkata Ad-Daraquthni tentangnya :

"Hafidz (seorang penghafal) terkadang menyampaikan hadits melalui hafalannya tanpa kitabnya, namun (sangat disayangkan) telah membinasakannya sifat ujub."

Dan berkata Adzdzahabi rahimahullah didalam assiyar :
"Beliau termasuk lautan ilmu namun sifat ujub menjadikannya tidak dikenal"

Wal'iyadzubillah

Demikian pula Ahmad Al-'Atthar sebagaimana disebutkan di dalam Lisanulmizan, beliau juga dahulu termasuk dari ulama dan penghafal, dan berkata Al-Hafidz rahimahullah tentangnya :
"Telah membinasakannya sifat ujub."

Berkata Al-Imam Malik Bin Anas rahimahullah :
"Apabila seseorang memuji dirinya sendiri maka telah hilang keindahannya"

Seperti (yang dikatakan): tidaklah memuji diri sendiri melainkan orang yang bangga terhadap dirinya sendiri, senang terhadap kepemimpinan, ingin tampil dan terdepan, kita memohon keselamatan.

Ini adalah penyakit-penyakit dan kotoran, hendaklah kalian perhatian dengannya semoga Allah menjaga kalian, sifat-sifat ini tersembunyi, bisa jadi kamu dapati ada  pemelihara (sifat tersebut) tersebar padamu dan dia menabur benih itu padamu , kemudian menyebarlah musibah ini disini dan disana, apabila kamu kembali ke negerimu  perangilah jiwamu,  perangilah jiwamu, perangilah jiwamu sampai kamu menang, dan jujurlah kepada Allah, bersandarlah kepadaNya dengan merendahkan diri dan memohon kepada Nya agar dihindarkan dari musibah ini apabila ada padamu, setiap orang bisa mengalahkan dirinya sendiri(dengan izin Allah), dia lebih tahu tentang dirinya, Barakallahufikum.

Sumber :
https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=160904

Alih bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu'Umar
https://t.me/alfudhail

Rabu, 07 November 2018

“Rebo Wekasan”, Dalam Tinjauan Syari’at Islam


"Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir bulan Shafar. Diyakini pada hari itu akan datang 320.000 bencana. Untuk penolak bala', diadakanlah berbagai ritual khusus pada malam dan siangnya. Bagaimana Islam memandang keyakinan ini? "

Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan.

Apakah Rebo Wekasan itu?

Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, atau pun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar.

Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at - yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’(shalat sunnah untuk menolak bala’) - yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam.

Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.

Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.

Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?

Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.

Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.

Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. 

Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.

Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini - sampai akhir zaman nanti - juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.

Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).

Islam adalah agama yang sempurna, seluruh syariatnya dibangun di atas penyempurnaan agama bagi para hamba-Nya dengan memerangi segala bentuk kesyirikan dan segala bentuk penyandaran diri kepada makhluk-Nya. Islam juga dibangun di atas penyempurnaan akal-akal manusia dengan membatalkan segala bentuk khurafat dan dongeng-dongeng yang tidak jelas asal-usulnya. 

Islam sangat menaruh perhatian pada upaya mendatangkan segala bentuk manfaat, mashlahat dan kebaikan yang meningkatkan akal pikiran, menyucikan jiwa dan memperbaiki segala keadaan para hamba baik pada urusan agama, dunia maupun akhirat mereka.

Seorang muslim yang memiliki akal dan pandangan hati yang tajam tentu ia akan bisa menimbang dan menilai bahwa keyakinan sial pada hari tertentu, angka tertentu, tempat tertentu atau pada sesuatu tertentu yang ia lihat maupun yang ia dengar adalah keyakinan yang tidak dibangun di atas kaedah-kaedah ilmiyah, tidak pula dibangun di atas fitrah yang salimah.

Hanyalah keyakinan sial itu bersumber dari dugaan-dugaan dan was-was syaithan yang ia lemparkan ke dada-dada orang yang lemah imannya lalu ia pun mempercayainya. Tidakkah ada yang mau berfikir, bukankah hari Rebo Wekasan, Jum’at Kliwon, Selasa Wage, Jum’at Legi dan hari Senin, Selasa, Ahad, Sabtu itu tidak ada bedanya? 

Bukankah bulan Safar, Muharram dan Syawwal itu sama seperti bulan-bulan lainnya? Bukankah nikmat dan musibah itu semuanya berasal dari-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya?

Semua orang yang berakal tahu, waktu, hari dan bulan itu hanyalah tempat terjadinya berbagai peristiwa. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan nikmat yang turun atau pun bala’ yang menimpa. Hanyalah kesemuanya itu terjadi dengan takdir dan kehendak Allah semata. Segala sesuatu yang Ia kehendaki pasti terjadi dan segala sesuatu yang tidak Ia kehendaki pasti tidak akan terjadi.

Dan bukanlah menjadi sebuah pembenaran apabila satu dua bencana kebetulan terjadi pada Rebo Wekasan, kita katakan bahwa hal itu kebetulan terjadi bertepatan dengan Rebo Wekasan bukan disebabkan karena Rebo Wekasan.

Oleh karena itu sudah sepantasnya kita hanya bersandar kepada-Nya semata dalam hal mendatangkan manfaat maupun menolak bala’. Jangan sampai kita menoleh sedikitpun kepada khurafat, takhayyul dan dongeng-dongeng yang tidak jelas asal-usulnya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.



Jumat, 02 November 2018

Tuntunan Pernikahan Syar’i: Ta’aruf dan Nazhor

Tidak ada sebuah urusan pun kecuali telah dijelaskan oleh agama Islam yang sempurna ini. Agama yang telah diridhai oleh Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Agama yang menjadi nikmat agung yang diberikan kepada kaum muslimin. Segala aspek kehidupan manusia telah diatur dengan sedemikian indah. Bahkan, dalam urusan mencari jodoh dan berumah tangga, Islam telah mengaturnya dengan sebaik-baiknya.

Islam menghendaki kehidupan yang bersih nan mulia bagi manusia. Berbagai pintu yang bisa mengantarkan manusia menuju jurang kehinaan hidup ditutup rapat. Salah satu perbuatan yang hina adalah zina. Islam menutup semua pintu yang menuju ke sana. Misalnya, berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, memandang sesuatu yang tidak halal, wanita menghaluskan dan melembut-lembutkan suara atau ucapan di depan laki-laki yang bukan mahram, dan lain-lain.

Saat seseorang mencari jodoh, semua hal di atas tetap terlarang. Berdasarkan hal ini, kita bisa memahami bahwa pacaran itu terlarang karena mesti melibatkan salah satu larangan di atas. Banyak orang mengira bahwa pacaran adalah perbuatan yang lumrah untuk mencari jodoh. Pemuda atau pemudi yang tidak punya pacar dianggap kuno, kuper, ketinggalan jaman, dan lain-lain.

Sungguh, propaganda orang-orang kafir telah meraih sukses di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini. Padahal, jika kaum muslimin mau mempelajari agama Islam yang telah diridhai oleh Allah ﷻ ini, ternyata ada jalan yang selamat dan diberkahi untuk mendapatkan jodoh.

Pada edisi ini kita akan membahas tuntunan pernikahan yang syar’i, yaitu taaruf dan nazhor. Sebelum membahas proses taaruf dan nazhor, sekilas akan kita bahas tentang niat dan shalat istikharah karena pentingnya hal ini.

NIAT

Seseorang yang berkeinginan kuat untuk menikah hendaklah mengoreksi kalbunya. Tanyakan kepada kalbunya, “Apa niatmu untuk menikah; Apakah engkau menikah dalam rangka ibadah kepada Allahﷻ? Apakah engkau menikah karena Allah ﷻ (ikhlas karena-Nya)? Apakah engkau menikah dalam rangka menjalankan perintah Allah ﷻ?” 

Kalbunya akan jujur menjawab tiga pertanyaan tersebut. Perhatikan niat yang ada di dalam kalbu ini. Sebab, niat menjadi penentu yang menyebabkan sukses atau gagalnya sebuah amalan. Allah Yang Mahabijaksana berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah ﷻ dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” 
(al-Bayyinah: 5)

Rasulullah ﷺ bersabda,
وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya, setiap orang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan niatnya.” 
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Niatkan pernikahan dalam rangka ibadah kepada Allah ﷻ dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Hindari pernikahan yang tidak diniatkan untuk ibadah, seperti seseorang yang telah mencapai usia tertentu kemudian menikah hanya karena keumuman orang menikah pada usia tersebut. Dia dihantui oleh perasaan tidak enak apabila tidak menikah pada usia tersebut. Atau, ketika telah menjabat jabatan tertentu, seseorang menikah hanya karena gengsi jika tidak punya pasangan. 

Perbaiki niat tersebut. Jadikan menikah sebagai amalan ibadah kepada Allahﷻ dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Niatkan pernikahan hanya mengharap wajah Allah ﷻ (ikhlas karena-Nya). Hindari niat menikah untuk selain Allah ﷻ, semisal untuk tujuan duniawi semata. Barang siapa beramal tanpa keikhlasan, dia akan menuai penyesalan di dunia dan di akhirat. Bukankah dunia ini penuh dengan tipuan? Sekian banyak penghuninya telah tertipu, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah ﷻ.

Selain itu, niatkan pernikahan dalam rangka menerapkan perintah Allah ﷻ. Yakinilah bahwa sesuatu yang diperintahkan oleh Allah ﷻ pasti baik dan sesuatu yang dilarang-Nya pasti buruk. Di antara perintah Allah ﷻ Yang Mahabijaksana adalah menikah.

Setiap kali melakukan amalan, seorang yang beriman hendaklah meniatkannya untuk ibadah, ikhlas karena Allah ﷻ, dan dalam rangka menerapkan perintah-Nya. Niat yang demikian ini adalah niat yang paling agung. Jika niat di atas ada pada seseorang yang berkeinginan kuat untuk menikah, kebahagiaanlah yang akan diraihnya, baik di dunia maupun di akhirat.

SHALAT ISTIKHARAH

Seorang muslim tidaklah menyandarkan urusannya kepada dirinya—apalagi kepada orang lain—meskipun memiliki sedikit kemampuan dalam hal tersebut. Kemampuan yang ada pada dirinya adalah pemberian Allah Yang Mahaperkasa, Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Seluruh manusia sangat membutuhkan Allah ﷻ, Dzat Yang Mahakaya, yang tidak butuh kepada makhluk-Nya.

Seorang muslim disunnahkan untuk melakukan shalat istikharah sebelum mengerjakan suatu urusan, termasuk saat mencari jodoh. Demikian juga sebaliknya, seorang wanita yang dipilih oleh laki-laki untuk dijadikan pasangan hidupnya, disunnahkan menunaikan shalat istikharah sebelum melangkah dan mencari informasi tentang calon suaminya.

Istikharah artinya meminta pilihan kepada Allah ﷻ, Dzat Yang Maha Mengetahui urusan yang gaib. Shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rakaat yang diikuti oleh doa istikharah. Doa tersebut dibaca setelah shalat. Lafadznya sebagai berikut.

اللهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَاأَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي، وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَشَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْلِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِه

“Ya Allah ﷻ, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon ketentuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu. Aku memohon karunia-Mu yang agung karena Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak mampu, Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau mengetahui segala sesuatu yang gaib. Ya Allah ﷻ, apabila Engkau tahu bahwa urusan ini—disebutkan urusannya—baik bagiku, untuk agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku, takdirkanlah dia untukku dan mudahkanlah serta berkahilah. Apabila Engkau tahu bahwa urusan ini buruk bagiku, untuk agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku, palingkanlah dia dariku dan palingkanlah aku darinya. Takdirkanlah bagiku kebaikan di mana saja, lalu jadikanlah aku ridha dengannya.”

Hendaknya dia menyebutkan urusannya dengan mengganti lafadz هَذَا الْأَمْرَ. Misalnya, diganti dengan هَذَا الزَّوَاجَ (pernikahan ini).

Setelah seseorang melakukan shalat istikharah, di antara tanda-tanda kebaikan adalah dimudahkannya sebab-sebab yang mengantarkan kepada urusan yang sedang dihadapinya. Tidak benar istikharah yang bersandar kepada mimpi-mimpi atau hal-hal lain yang tidak ada landasannya dalam agama kita ini.

TA'ARUF

Ta'aruf secara bahasa artinya saling mengenal. Untuk mengenal calon pasangannya, seorang pemuda tidak perlu berkenalan langsung dengan seorang pemudi, mengobrol berdua, pergi berdua, dan lain-lain. Semua itu bukan tuntunan Islam. Dia bisa mencari informasi tentang calon istri salihah melalui ibunya, saudarinya, atau orang lain yang tepercaya.

Setelah mendapatkan calon dengan kriteria yang diinginkan, dia bisa mencari informasi lebih detail tentangnya melalui walinya atau orang lain yang mengenal baik wanita tersebut. Hal itu bisa dilakukan sendiri atau melalui perantara. Segala hal tentang si wanita yang ingin diketahuinya bisa ditanyakan, seperti daerah asal, kondisi fisik, pengalaman belajar, kegemaran, prestasi, dan lain-lain. Perlu diingat, hendaknya orang yang ditanya adalah orang yang jujur dan amanah sehingga tidak memberi informasi yang dibuat-buat, dan tidak menyebarkan rahasia sesuatu yang mestinya dirahasiakan.

Sebelum taaruf hendaklah seseorang melakukan shalat istikharah terlebih dahulu sebagaimana dijelaskan di atas. Apa pun yang diputuskan oleh Allah ﷻ setelah istikharah tersebut, itulah yang terbaik baginya.

NAZHOR

Setelah seseorang merasa mantap dengan calon pasangannya, Islam menganjurkan melakukan nazhor. Nazhor artinya melihat wanita yang hendak dilamar dan mengamatinya dengan saksama. Dalam hal ini, memandang wanita bukan mahram yang hukum asalnya dilarang, menjadi halal. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada seorang pria yang hendak menikahi seorang wanita,

أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَاذْهَبْ فَانْظُرْهَا

“Sudahkah engkau melihatnya?” Dia menjawab, “Belum.” Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Pergilah dan lihatlah dia!” 
(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Sebaiknya, nazhor dilakukan sebelum lamaran agar pihak pria bisa mundur—ketika merasa tidak cocok—tanpa menyakitinya. Namun, nazhor bisa juga dilakukan saat melamar atau setelahnya.

Persyaratan Nazhor

Nazhor yang syar’i memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut :

  • Nazhor dilakukan dengan ditemani oleh mahram si wanita, tidak berkhalwat (menyendiri berduaan dengan wanita yang bukan mahram).
Sebab, Nabi ﷺ melarang hal tersebut sebagaimana dalam sabda beliau,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلَا تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ

“Tidak boleh seorang pria berduaan dengan seorang wanita, dan tidak boleh seorang wanita bepergian (safar) melainkan dengan mahramnya.” 
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
  • Nazhor dilakukan tanpa syahwat. Jika dengan syahwat, hukumnya haram. Sebab, tujuan nazhor adalah untuk mengetahui keadaan si wanita, bukan untuk bersenang-senang.
  • Nazhor dilakukan jika si lelaki memiliki persangkaan kuat bahwa lamarannya akan diterima.
  • Hendaknya si lelaki hanya melihat bagian tubuh wanita yang biasa tampak, seperti wajah, leher, dua tangan, dan dua betis.
  • Adanya tekad dari si lelaki untuk melamar. Jika sekedar coba-coba, nazhor tidak diperbolehkan.
  • Hendaknya si wanita tidak dinazhor dalam keadaan berdandan, berminyak wangi, bercelak, atau jenis berhias yang lain, karena hal itu akan menimbulkan kejelekan.
Hal-hal di atas semestinya dilakukan oleh seorang wanita di depan suaminya. Selain itu, hal-hal tersebut akan menjadi mafsadah baginya. Sebab, jika setelah menikah ternyata suami tidak mendapati kecantikan yang pernah dipertontonkannya, suami bisa kecewa dan tidak menyukainya. Akhirnya, penyesalan dan penderitaanlah yang akan dituainya.

Nazhor boleh dilakukan lebih dari sekali jika si pria belum mantap dengan nazhor pertama. Namun, perlu tetap diingat, tujuannya bukan untuk bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsu. Selain itu, nazhor boleh dilakukan tanpa sepengetahuan si wanita, apabila hal ini aman dari dampak yang jelek. Jika dia ingin mengetahui hal-hal yang lebih detail tentang si wanita, dia bisa mengutus ibu atau saudarinya untuk meneliti keadaannya, seperti bau mulut, bau badan, keindahan rambut, dan lain-lain. Sebaliknya, si wanita bisa meminta bantuan ayah atau mahramnya yang lain untuk mendapatkan informasi yang ingin diketahuinya tentang pria yang menazhornya.

Demikianlah sekelumit pembahasan taaruf dan nazhor dalam proses pernikahan syar’i. Semoga Allahﷻ, al-Hadi (Yang Maha Memberi Petunjuk) memberikan taufik kepada kita semua untuk mengamalkan syariat-Nya dan mengampuni dosa-dosa kita yang melanggar syariat-Nya yang agung ini. Sesungguhnya, Dia Dzat Yang Maha Pengampun.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Qonitah 8 November 2014 Bahteraku, Edisi 03
Ta'aruf-Nazhor oleh Al-Ustadz Abu Sa’id Hamzah bin Halil dan Ummu Luqman Salma


Rabu, 31 Oktober 2018

Fatwa Ulama: Hukum Wanita Mengendarai Sepeda Motor

Fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah tentang Hukum Wanita Mengendarai Sepeda Motor - sebagaimana yang banyak terjadi di Indonesia

Telah sampai kabar kepada kami bahwa para wanita sahabat mereka dulu mengendarai unta. Apakah boleh kami (para wanita) untuk mengendarai sepeda motor (جوالة) dengan ijin suami kami karena kami kadang butuh pergi ke majlis-majlis ilmu atau madrasah atau warung atau dokter. Dan sebagian kami mengendarai dengan cepat dan nampak dari dirinya hal-hal yang tidak pantas nampak darinya seperti bentuk tubuhnya meskipun dia berhijab?

 "Wahai anakku ….

Pertama : 
Ketahuilah olehmu dan oleh seluruh anak-anakku (para wanita salafiyah) yang mendengar ucapanku: sangat beda antara wanita mengendarai unta atau himar atau bighal dengan mengendarai apa yang engkau sebut sepeda motor (جوالة), mungkin yang dimaksud adalah (دراجة) sepeda motor. 

Ketika seorang muslimah mengendarai hewan tunggangan yang sudah diketahui baik himar atau unta atau bighal, auratnya tidak nampak dan penutupannya jelas.

Adapun sepeda motor (دراجة) yang engkau sebut (جوالة), maka ini telah engkau sebutkan bahwa telah nampak/tersingkap dari tubuhnya perkara yang tidak pantas.

Oleh karena itu aku berkata: "Wahai para wanita muslimat, janganlah kalian mengendarai sepeda motor (دراجة)-yang oleh penanya dinamai (جوالة)-, karena perkara yang telah engkau sebutkan. Dan juga aku tak mengira tersembunyi atas setiap orang tentang tersingkapnya sebagian tubuhnya, sedangkan tubuh wanita adalah aurat, bahkan sebagiannya tetap aurat walaupun terhadap mahramnya. Na’am."

Kedua: 
Kehadiranmu di halaqah ilmu tidaklah wajib atasmu selamanya. Karena:
  • Pertama: karena engkau bisa untuk menggantikan majlis ilmu ini dengan rekamannya, atau kehadiranmu dari nukilannya melalui internet. Dan betapa banyaknya internet di rumah-rumah.
  • Kedua : dan bisa sekumpulan wanita untuk berkumpul di salah satu dari mereka. Na’am.
  • Ketiga: Telah mencukupimu bila suamimu atau mahrammu menyampaikan kepadamu majlis ilmu yang dia hadiri, dan engkau bisa merekamnya.
Karena kalian wahai para wanita muslimah diperintah untuk tetap tinggal di rumah-rumah kalian dengan meneladani ibunda kalian Ummul Mukminin Ash Shiddiqah radhiyallahu ‘anha. Namun bila seorang wanita bisa hadir di masjid dengan be rjalan kaki atau dengan kendaraan ditemani mahramnya atau suaminya, maka tidak mengapa. Karena para wanita sahabat dulu menghadiri shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga dengan majlis ilmu yang beliau adakan bersama para sahabat beliau. Na’am.

Sumber : Tanya Jawab bersama Syaikh Ubaid di Ponpes Al Anshar Sleman Jogja Tahun 2012 1433 H, setelah Durus Kitab Shiyam Pertama menit ke 0:46:12 dst

♻ Join & ikuti chanel Ma'had Minhajus Sunnah :
✅ https://bit.ly/SyiarIslam
✅ https://tlgrm.me/salafymagelang
✅ http://salafymagelang.com

•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
 🍃Turut menyebarkan:
WA 🌹syarhus sunnah lin nisaa`
Channel Telegram: http://t.me/syarhussunnahlinnisa
Blog: https://catatanmms.wordpress.com

Bagaimana Bershalawat Kepada Rasulullah ﷺ ?

Di antara sunnah di hari Jum'at adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

أََكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

🍂"Perbanyaklah bershalawat kepadaku di hari jum'at dan di malam jum'at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali."
(Lihat Ash-Shahihah: 1407)

Lalu bagaimana bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam?

Ada beberapa bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, di antaranya adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

  • ALLOHUMMA SHOLLI 'ALA MUHAMMAD, WA 'ALA ALI MUHAMMAD, KAMA SHOLLAITA 'ALA IBROHIM, WA 'ALA ALI IBROHIM, INNAKA HAMIIDUN MAJIID.
  • ALLAHUMMA BAARIK 'ALA MUHAMMAD WA 'ALA ALI MUHAMMAD, KAMA BAAROKTA 'ALA IBROHIM, WA 'ALA ALI IBROHIM, INNAKA HAMIIDUN MAJIID.

Di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (no. 405), Sahabat Basyir bin Sa'ad radhiallahu 'anu berkata,

أَمَرَنَا اللهُ تَعَالَى أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟

"Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu?"

Beliau menjawab,

قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Ucapkanlah: (lalu beliau menyebutkan shalawat di atas).”

Lafazh shalawat di atas juga diriwayatkan Imam al Bukhari dalam Shahihnya (no. 3370)

Wallahu a'lam.

oleh: Tim Warisan Salaf
#Fawaidumum #akhlak #dzikir
〰〰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
🍃Turut menyebarkan:
WA 🌹syarhus sunnah lin nisaa`
Channel Telegram:  http://t.me/syarhussunnahlinnisa
17 Shafar 1440H